Sejarah Desa
Desa Lung
Fala merupakan salah satu desa tertua selain Desa Lung barang di Kecamatan
Mentarang Hulu. secara historis, Lung diartikan sebagai Muara dan Fala' merupakan jenis kayu yang digunakan sebagai kayu bakar. keberadaan kayu ini dipercaya banyak tumbuh di sepanjang pinggir sungai fala', sehingga Lung Fala dimaknai sebagai tempat atau sungai yang banyak ditumbuhi pohon atau kayu fala.
Secara
historis, Bawang (kampung) Lung Fala terbentuk pada tahun 1890 yang
dipimpin oleh Raca’ Bawang (Kemakal) Sakai Rot. Pada masa tersebut, pola
pertanian penduduk masih ladang berpindah/bergulir. Di era kepemimpinan Sakai
Rot juga merupakan tonggak masuknya ajaran agama Kristen.
Kepemimpinan
Sakai Rot berakhir tepat pada tahun 1930 dan puncak kepemimpinan
diambil alih oleh Kemakal Yaran Sakai. Di masa kepemimpinan Yaran Sakai, pola
pertanian ladang berpindah mengalami perubahan menjadi pola persawahan yang
dimulai di Apa’ (Sungai) Ketutut sekitar pada tahun 1950-an. Perubahan
pola pertanian tersebut dibawa oleh Rining Laban. Pengetahuan pola persawahan
tersebut dibawa oleh Rining Laban dari makassar dan pola pengetahuan tentang irigasi dibawa dari Krayan, wilayah Long Midang atau Pa' Bawan.
Masih di era kepemimpinan Yaran Sakai, Gereja pertama dibangun di desa sekitar tahun 1948. selain itu, pada tahun 1963-1966, Desa Lung Fala pernah menjadi tempat basis militer pada era konfrontasi Indonesia-Malaysia. selanjutnya sekitar pada tahun 1955, kepemimpinan Yaran Sakai berakhir dan tongkat kepemimpinan diambil alih oleh Labo Sakai dan berakhir pada tahun 1963 dan digantikan oleh Seradu Lalung. Di zaman kepemimpinan Seradu Lalung, Sekolah Teologi juga pernah dibangun pada era ini. Selain itu, Laman (lahan ternak) juga dikelola oleh sebagian Masyarakat kampung, ternak yang utama adalah kerbau yang dibawa dari Krayan, selain itu terdapat juga ternak seperti sapi dan kambing.
Kepemimpinan Seradu Lalung sebagai kepala kampung digantikan oleh Fengiran Dawat pada tahun 1968, di era ini lapangan terbang perintis rining laban mulai dibangun. pada tahun 1976, tongkat kepemimpinan kembali kepada Seradu Lalung hingga tahun 2001. Pada era ini, seluruh penduduk yang berada di bagian hulu Pakinayeh (Sungai Mentarang) mengalami perpindahan yang signifikan atas arahan dari pemerintah pada waktu itu agar dapat dekat dengan akses fasilitas publik, Kesehatan, dan lainnya. Di era yang sama, bergabungnya sebagian Masyarakat Lebasan, Lung Kafur, Lung Fangetodon, Lung Ngiding, Lung Firi, Lung Kebinu, Lung Lefanit, Lung Ngiyak, Lung Refanau di desa Lung Fala.
Di era Kepemimpinan Seradu Lalung, sekolah teologi ditiadakan dan dibangunnya PLTMH pertama oleh salah seorang pilot yang Bernama Mr. Terry. Selain itu, pada tahun 1980, jauh sebelum terbentuknya Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), wilayah TNKM ditetapkan sebagai Cagar Alam lalu statusnya diubah menjadi taman nasional pada tahun 1996. Perubahan tersebut merupakan inisiasi dari World Wildlife Fund atau World Wide Fund for Nature (WWF) pada awal dasawarsa 1990-an. Pada tahun 2001 juga merupakan era transisi jabatan kepala desa Simson Rining menggantikan Seradu Lalung dan sebagai tonggak mulai aktifnya pemerintahan desa.
Pada tahun 2010 merupakan tahun berakhirnya ternak kerbau di desa. selanjutnya, masa jabatan Simson Rining berakhir dan digantikan oleh Kalvinus Rining pada tahun 2011. Tidak berselang lama, masa jabatan Kalvinus berakhir pada tahun 2013 dan digantikan Marlina sebagai pejabat pengganti antar waktu (PAW) Kepala desa sekaligus tonggak Sejarah di desa keterwakilan Perempuan yang pertama di ranah pemerintahan desa sampai tahun 2014.
Selanjutnya tongkat
kepimimpinan desa dipegang kembali oleh Markus Seradu. Di masa ini, mulai
maraknya Pembangunan desa dan masuknya secara siginifikan program pemerintah
pusat. Selain itu, maraknya tren Pendidikan tinggi dan didominasi oleh Perempuan yang
keluar kota untuk bersekolah.
Kepemimpinan
Markus berakhir pada tahun 2020 dan jabatan
kepala desa diambil alih oleh Konly pada tahun 2021. Di era digital dan
globalisasi, mulai banyaknya partisipasi Perempuan di pemerintahan desa. Di era
yang sama juga, Subsidi Ongkos Angkut (SOA) Penumpang/barang udara
diselenggarakan oleh pemerintahan desa. Pembangunan desa dilaksanakan hingga
dapat dirasakan oleh penduduk desa Lung Fala saat ini, sampai pada kolaborasi
pemerintahan desa Lung Fala dengan KKI Warsi untuk membangun bersama Potensi
Ruang Mikro-Aplikasi Informasi dari Desa (PRM-AID).